Langit di luar, langit di badan, bersatu dalam jiwa. Kemarin dan esok adalah hari ini. Bencana dan keberuntungan, sama saja. – ws rendra-
Seorang teman perempuan pernah menangis gara-gara ramalan. Gurat-gurat tangan kirinya ternyata mensinyalkan masa depan yang suram. Garis jodoh, rejeki dan umurnya tak bagus, ujar teman yang meramal. Siapa yang tak miris, jika diramal tak punya jodoh seumur hidup. Rejeki pun seret dan usia yang tak panjang.
Iseng, saat jalan sama anak-anak canopy hunting foto dan nyari bahan untuk features, saya pernah mencoba meramal diri sendiri. Di Gunung Kawi, 40 kilometer arah selatan Malang yang konon sangat popular sebagai tempat mencari ‘pesugihan’. Kabarnya, cuma butuh semalam menjadi orang kaya raya. Caranya mudah, cukup duduk bersila semalaman dibawah pohon dewandaru – pohon para dewa, kata mitos setempat – dan berharaplah sehelai daun dewandaru jatuh mengenai anda maka rejeki berlipat-lipat sudah menanti. Itu Mitos. Believe it or not? Buktikan sendiri.
Soal iseng meramal tadi, saya masuk ke sebuah klenteng, sekitar 200 meter dari puncak Gunung Kawi, yang didalamnya terdapat batang-batang lilin seukuran manusia dewasa dan menyala terus selama berbulan-bulan. Bapak tua penjaga klenteng menawarkan ramalan. Cukup bayar 500 perak dan ambil bumbung ramalannya. Sebuah bumbung berisi sekitar 20-an batang bambu, mirip sumpit, dan diberi nomor.
Saya coba sekali. Bumbung digoyang naik turun sampai salah satu stik bambu terlempar ke lantai. Bergegas saya pungut dan mencocokkanya dengan ‘buku pintar’ pak tua. Ahai, Anda belum beruntung! Ramalan saya jelek: hidup sengsara dan rejeki seret. Penasaran, saya coba lagi sampai 9 kali baru dapat nomor ‘cantik’. Bayangkan, jika satu ramalan berlaku untuk satu kehidupan maka baru di kehidupan ke sembilan saya baru bisa hidup bahagia sejahtera. Uughhhh…! Alih-alih menghibur diri, saya berkata dalam hati: Cuma ramalan, tenang bos! Ya. Cuma ramalan!
Dan saat malam imlek yang hujan kemaren , kembali saya berpikir soal ramalan. Terutama soal rejeki dan peruntungan di tahun babi ini. Seorang teman, yang memang ‘keturunan’ asli, mengeluhkan hokinya bakal jelek tahun ini. Shio Ayam-nya tak cocok dengan karakter babi. Artinya klien berkurang dan omzet pun tak begitu menjanjikan. Bagaimana dengan saya yang ber-shio Kelinci? Akankah saya beruntung di tahun ini dan buaaanyak rejekinya? Saya sih berharap demikian. Semua orang juga. Tanpa peduli tahun ini tahun babi, kuda, naga atau pun dinosaurus :p Bagi saya, shio doesn’t matter. Diberi rejeki banyak ya disyukuri. Diberi sedikit ya disyukuri. Namanya rejeki toh bukanlah mata uang. Tuhan pun tak mempaketkan rejeki kita dalam bentuk rupiah atau dollar. Dan jika, hidup ini bukanlah sebuah pesta yang kita angankan, but while we’re here, we should dance, kan? Tetap semangat, bok!
Saya, pada akhirnya lebih meyakini bahwa hidup ini adalah sebuah misteri. Bukan miss universe yang cantik, lho. Tapi misteri yang indah nan unik. Life is beautiful. Adakah yang lebih besar kehidupan itu sendiri? Is there anything bigger? Akankah hidup ini begitu berwarna-warni dan mengejutkan jika kita bisa membaca masa depan. Weruh sak durunging winarah – mengetahui sebelum terjadi.




saya juga suka deg2an sama ramalan ramalan..
apalagi kalo diramal banyak yang lagi naksir..
aduh..
By: -tikabanget- on February 27, 2007
at 5:01 am
yup betul!!! setuju!!! syukuri aja semua yang ada.
By: sesy on February 27, 2007
at 6:32 am
Pokoknya aku setuju banget dengan ideanya….
By: Nev on February 27, 2007
at 4:10 pm
mana mana dek ava nya? pipi dek ava gembul nggak? hehehe…
ngobrol ramal ramalan…ehm…gak usah percaya deh…apalagi baca buku betaljemur adamakna (weleh..)..irrasional.*siapa juga yang baca*
By: ulfa on February 28, 2007
at 2:30 am
weruh sa’durunge winarah, hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, tapi itu bukan berarti menjadi patokan, karena ada Tuhan yang menguasai segalanya,mungkin bisa dijadikan referensi dan lebih mawas diri.
By: samsonasik on February 28, 2007
at 7:54 am
cari pendapat peramal memang menggoda, tapi kalo dapat ramalan buruk2 terus malah setres, kan nggak enak juga yak.. hehe..
By: mpokb on February 28, 2007
at 10:02 am